Tuesday, January 29, 2008

Debt to Equity Ratio ( DER )

Debt to Equity Ratio


DER yang merupakan kepanjangan dari Debt to Equity Ratio merupakan perbandingan antara hutang perusahaan terhadap jumlah modalnya. Pada umumnya makin besar angka DER perusahaan dianggap makin berbahaya secara finansial. Contoh : pada angka DER = 1 berarti jumlah modal usaha dengan hutangnya adalah sama , tetapi pada DER = 1,5 berarti jumlah hutang lebih dari modal perusahaan tersebut. Disini jelas bahwa pada angka DER yang lebih besar perusahaan harus membayar bunga pinjaman yang lebih besar. Sebenarnya yang dikawatirkan disini adalah bila terjadi kondisi keuangan yang mengakibatkan arus kas tersendat.


Dengan demikian bukan berarti jika angka DER lebih besar akan merugikan perusahaan. Selama arus kas ( cash flow ) perusahaan bisa menutup pengeluaran dan bisa menghasilkan keuntungan perusahaan lebih besar artinya angka DER yang besar tidak masalah.


Khusus untuk bidang perbankan angka DER bisa mencapai di atas 7 , sesuai dengan peraturan yang ada. Angka DER yang besar pada bank dikarenakan tabungan dan deposito dianggap sebagai hutang. Saat ini pada bidang perbankan jumlah hutang yang diatas 7 kali modal dianggap wajar. Pada bidang lainnya angka DER yang sehat biasanya di bawah angka 1.


Makin besar angka DER suatu perusahaan maka manajemennya harus makin kerja keras untuk menjaga arus kas perusahaan. Resiko yang makin tinggi diharapkan memberikan laba yang juga lebih tinggi. High Risk High Return. Hal ini bagi investor saham fundamental diperhitungkan sebagai pertimbangan saat membeli atau menjual saham. Dengan tingkat resiko yang makin tinggi maka investor fundamental akan menawar makin rendah harga sahamnya.


Sebaliknya makin rendah angka DER suatu perusahaan investor fundamental akan menghargai makin tinggi karena tingkat resikonya yang lebih rendah. Investor akan lebih berani membeli saham dengan harga lebih tinggi dengan catatan semua kondisi sama.


Secara umum yang dimaksud dengan utang perusahaan adalah utang jangka panjang , bukan utang usaha. Perusahaan yang bisa berkembang tanpa utang jangka panjang bisa dianggap sebagai perusahaan yang sehat karena bisa tumbuh dengan operasionalnya sendiri.


Pada saat krisis ekonomi yang lalu , banyak perusahaan mengalami masalah pembesaran angka DER . Pembesaran angka ini terutama akibat dari naiknya nilai hutang valas. Naiknya hutang berarti naiknya jumlah cicilan. Naiknya jumlah cicilan yang cukup besar tersebut ternyata tidak bisa ditutup dengan arus kas operasional perusahaan sehingga banyak investor yang harus menambah modal atau harus menjual perusahaannya dan tidak sedikit perusahaan yang terpaksa pailit.

Return On Equity ( ROE )

Return on Equity


ROE = Laba Bersih : Modal . ROE atau Return on Equity adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan modalnya. Misalnya perusahaan dengan ROE 30% berarti laba bersih per tahun mencapai 30% dari modal perusahaan. Jika dibandingkan dengan simpanan uang di bank maka ROE identik dengan bunga bank.

Berapa ROE yang baik ? tentu setinggi mungkin. Namun demikian sebagai pedoman umum bahwa perusahaan yang sehat harus punya ROE jauh di atas bunga bank. ROE yang lebih kecil dari bunga bank menunjukkan perusahaan sedang bermasalah. Perusahaan dengan ROE yang sedikit di atas bunga bank juga bisa dianggap kurang sehat. Investor saham fundamental akan menghindari perusahaan dengan ROE kecil karena terlalu beresiko.


Saham yang memiliki ROE kecil saat ini tetap bisa dipilih investor bila diproyeksikan kedepannya memiliki ROE yang tinggi. Misalnya perusahaan yang sedang dalam proses restrukturisasi keuangan. Pada saat krisis ekonomi lalu banyak perusahaan yang mempunyai ROE kecil bahkan minus tapi sekarang sudah sehat dengan ROE yang cukup besar.


Pergerakan harga saham perusahaan berbanding lurus dengan ROE. Artinya , makin tinggi ROE makin tinggi pula harga sahamnya. Namun demikian pergerakan harga saham juga dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang berbanding terbalik. Bila suku bunga bank naik maka harga saham cenderung turun. Hal ini bisa dipahami karena sebagian dana investor akan kembali ke perbankan dan meningkatnya resiko finansial perusahaan.


Saat krisis moneter , banyak saham dengan ROE di atas 20% harga jatuh karena suku bunga bank naik cukup tinggi bahkan di atas 70%. Saat ini dengan bunga bank di kisaran 8% , saham dengan ROE 20% bisa dianggap sudah cukup baik.

Pada suatu saat mungkin kita akan menemukan saham dengan ROE berubah jadi sangat tinggi , bahkan diatas 100% , hal itu mungkin saja perusahaan itu baru selesai melaksanakan proses restrukturisasi keuangannya. Laba bersih perusahaan jadi sangat tinggi yang berakibat pada naiknya ROE . Jadi perubahan tersebut bukan karena operasional perusahaan. Idealnya kenaikan laba bersih yang baik dihasilkan dari operasi perusahaan.

Return On Asset ( ROA )

Return on Asset

Investor bisa membiayai suatu usaha dengan modal sendiri atau kombinasi antara modal dengan hutang.


ROA = Laba Bersih : Asset . Return on Asset ( ROA ) sering juga disebut Return on Investment ( ROI ) .

Asset = Modal + Hutang . Suatu perusahaan yang tidak mempunyai hutang maka , Asset = Modal , artinya ROA = ROE ( Return on Equity ). Dengan demikian bisa dipahami bahwa angka ROA paling besar sama dengan angka ROE .

Nilai ROA yang berbeda jauh dengan ROE menunjukan porsi hutang yang besar pada Asset perusahaan. Misalnya , perusahaan dengan ROA 10% dan ROE 20% , menunjukan besar utang perusahaan sama dengan separuh Assetnya. Bila ROA 5% dan ROE 30% berarti porsi utang perusahaan jauh lebih besar daripada modalnya. Komposisi utang terhadap modal bisa dilihat pada DER ( Debt to Equity Ratio ).

Gunanya mengetahui nilai ROA bagi investor fundamental adalah untuk mengetahui tingkat pengembalian terhadap nilai Aset perusahaan. Makin besar aset perusahaan diharapkan makin besar pula tingkat keuntungannya. Jika aset membesar tapi tingkat keuntungan menurun berarti manajemen perusahaan tersebut bisa dianggap kurang mampu mengelola aset perusahaan.

Dalam hal seperti diatas , pihak manajemen bisa mengusulkan pembagian dividen untuk para pemegang sahamnya , dengan tujuan nilai ROA tetap tinggi akibat dari mengecilnya nilai aset. Nilai aset bisa dikurangi dengan menurunkan jumlah modal atau hutang perusahaan. Pada umumnya sebelum nilai ROA menurun pihak manajemen sudah lebih dahulu mengeluarkan kebijakan pembagian dividen.

Price Earning Ratio ( PER )

Price Earning Ratio

Price Earning Ratio sering disingkat PER artinya perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan . Nilai PER sering dikaitkan dengan besarnya suku bunga bank. Makin tinggi suku bunga bank di suat negara maka makin rendah PER saham perusahaan secara umum. Jadi bila suku bunga bergerak cenderung menurun maka PER saham akan cenderung naik. Artinya suku bunga bank berbanding terbalik dengan PER saham.

Ilustrasinya kira2 sebagai berikut. Jika kita menyimpan uang di bank dengan bunga 10% per tahun , artinya tingkat pengembalian modal kita adalah sekitar 10 tahun. Artinya bunga bank akan mencapai jumlah yang sama dengan modal yang ditanam selama 10 tahun. Jika bunga bank 5% maka tingkat pengembalian modal akan lebih lama lagi yaitu 20 tahun. Sebagian investor yang berani mengambil resiko lebih memilih menginvestasikan dananya di saham dengan pertimbangan bahwa saham akan memberikan keuntungan di atas bunga bank walaupun dengan tingkat resiko lebih besar. Secara fundamental investor akan memilih saham yang punya tingkat pengembalian lebih cepat dari tingkat pengembalian di bank. Jika suku bunga bank 10% maka investor secara fundamental akan memilih saham yang memiliki PER di bawah 10 , jika bunga bank 5% maka investor akan memilih saham dengan PER di bawah 20.

Namun selain bunga bank ada faktor lain yang mempengaruhi besarnya PER suatu saham yaitu kinerja perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang mempunyai prospek baik maka nilai PER sahamnya akan cenderung naik. Kenaikkan tersebut diakibatkan dari antisipasi pasar mengenai kinerja perusahaan tersebut di masa depan. Demikian pula sebaliknya , suatu perusahaan yang diperkirakan buruk masa depannya maka nilai PER sahamnya akan cenderung mengecil.

Faktor kinerja dan prospek perusahaan yang baik menyebabkan adanya kemungkinan suatu saham mempunyai PER lebih besar dari yang telah diilustrasikan di atas. Misalnya , pada suku bunga bank 5% suatu saham yang berkinerja baik dan berprospek cerah bisa mempunyai PER di atas 20.

Di negara2 maju banyak saham memiliki angka PER hingga di atas 50 , salah satu penyebab terbesarnya adalah tingkat suku bunga bank yang rendah. Di negara berkembang dengan tingkat suku bunga yang masih tinggi menyebabkan nilai PER saham juga rendah.

Di bursa sering ada pendapat yang mengatakan jika PER sudah rendah maka harga sahamnya murah jadi bisa dibeli. Hal itu belum tentu benar karena bisa saja PER saham rendah karena kinerja atau prospek perusahaannya yang kurang baik. Jadi jika ada saham dengan PER rendah jangan langsung di beli karena bisa jadi PER tersebut akan turun lebih rendah lagi. Demikian pula sebaliknya PER saham yang sudah tinggi belum tentu harga sahamnya sudah mahal , ada kemungkinan harga saham itu masih akan terus naik. Jadi untuk menentukan PER suatu saham sudah tinggi atau masih rendah perlu tahu analisa fundamentalnya